Tidak perlu panik menghadapi wabah. Pernyataan ini benar, tapi dikhususkan kepada orang-orang waras agar mereka tetap tenang dan tidak panik menghadapi bencana.
Adapun parte klo prip dan tungang plus lhokgong alias han lut tak, mesti dibuat panik dulu baru mereka bisa menemukan kewarasannya kembali.
Kalau kita pinjam kata Herata dalam Guru Aini, mereka memang bertetangga jauh dengan kewarasan.
Sebagian orang sering sulit membedakan antara kepanikan dan kewaspadaan. Sikap panik mesti ditinggalkan, sementara sikap waspada harus dikedepankan.
Dalam kondisi penyebaran wabah seperti saat ini, arahan pemerintah dan ahli medis untuk menghindari keramaian bukanlah bentuk kepanikan, tapi kewaspadaan agar virus itu tidak terus menyebar sehingga sulit diatasi mengingat fasilitas kesehatan kita yang memang minim.
Adapun sikap panik di antaranya ditunjukkan oleh mereka-mereka yang memborong masker, cairan pembersih, sarung tangan atau menumpuk makanan pokok karena rasa takut. Sikap semacam inilah yang disebut panik sehingga ia tidak mampu mengontrol dirinya.
Bukan Panik, Tapi Waspada
Reviewed by Khairil Miswar
on
1:49 AM
Rating:

No comments: