Ada-ada saja hiburan di negeri kita. Satu hiburan
lenyap, hiburan lain pun bermunculan dan berhamburan. Semakin mendekati
pilpres, hiburan-hiburan unik ini pun semakin menjadi-jadi. Beberapa waktu
lalu, kononnya ada oknum ustaz yang disebut-sebut “menambahi” ayat al-Qur’an.
Mungkin karena terlalu bersemangat sampai-sampai kesadarannya tinggal di
belakang. Atau mungkin tambahan itu dianggap sebagai “bid’ah hasanah”? Entahlah.
Belum lagi memori tentang oknum ustaz itu terhapus
di kepala, baru-baru ini kita kembali dikejutkan dengan ulah seorang oknum
“ustazah” yang katanya telah melakukan “teror” terhadap Tuhan dalam sebuah
puisi yang dibacakan pada malam Munajat 212 yang berlangsung di Monas. Selain
“teror” terhadap Tuhan, kononnya di acara tersebut juga sempat terjadi tindakan
tidak patut terhadap jurnalis yang sedang meliput. Mungkin saja beberapa oknum
dalam acara munajat itu cuma bercanda dengan jurnalis, cuma candaannya mungkin
terlalu berat. Tentang soal ini saya tidak berani berkomentar. Entah segan
entah takut, pokoknya biar saja itu ditangani oleh pihak yang lebih berkompeten
di negeri ini. Saya enggak mau ikut-ikutan.
Kembali pada soal teror. Menurut sahibul hikayat,
seorang oknum ustazah bernama Neno Warisman telah berhasil “menggertak” Tuhan
melalui puisinya yang panjang lebar itu. Agar tidak salah tafsir baiknya saya
kutipkan saja penggalan teks puisi yang dibaca oleh utazah kondang kita:
Jangan, jangan
Engkau tinggalkan kami
Dan menangkan
kami
Karena jika
Engkau tidak memenangkan
Kami khawatir ya
Allah
Kami khawatir ya
Allah
Tidak ada lagi
yang menyembahMu
Dari penggalan tersebut, beberapa kalimat tampaknya
tidak bermasalah. Permohonan Neno agar Tuhan tidak meninggalkan mereka dan
meminta agar mereka dimenangkan adalah permintaan yang wajar-wajar saja, sebab
ini adalah wujud dari kelemahan seorang hamba di hadapan Tuhannya sehingga ia
pun mengiba penuh harap.
Kekacauan dari puisi ini baru muncul ketika Neno menyatakan
kekhawatiran berlebihan kepada Tuhan. Kalimat bernada khawatir itu diulang
sebanyak dua kali sehingga terkesan sebagai penekanan. Neno khawatir jika Tuhan
tidak memenangkan mereka, maka tidak ada lagi yang akan menyembah Tuhan.
Saya menangkap ada dua pesan yang ingin disampaikan
Neno dalam puisinya. Pertama, Neno mencoba “menakut-nakuti” Tuhan dengan
kalimat “tidak ada lagi yang menyembahMu.” Di sini muncul pertanyaan, siapa
yang memberikan mandat kepada Neno untuk mendesak-desak Tuhan dengan cara
seperti itu? Seharusnya Neno tahu, bahwa Tuhan itu terlalu Agung untuk diteror
dan digertak-gertak. Tuhan Maha Tahu apa yang sudah dan belum terjadi sehingga
tak perlu diingatkan atau dinasehati. Kalau pun gara-gara kekalahan lantas
mereka tidak mau lagi menyembah Tuhan, emang kenapa? Bumi ini akan hancur,
gitu? Akan ada demo besar-besaran? Tanpa disembah oleh kalian pun Tuhan
tetap pada Keagungannya dan satu inci pun Keagungan Tuhan tidak akan berkurang.
Di sini kamu khilaf Neno!
Kedua, melalui bait puisi yang
nyentrik itu, Neno ingin memberi tahu kepada Tuhan bahwa hanya merekalah
penyembah Tuhan di negeri ini, sebab itu harus dimenangkan. Kalau mereka tidak
dimenangkan, maka Tuhan akan kehilangan penyembahNya. Akhirnya di Indonesia
tidak ada lagi yang menyembah Tuhan. Begitu ya ustazah? Pantaslah
kamu khawatir. Demikian kira-kira pesan yang saya tangkap dari beberapa
bait puisi yang menggetarkan itu.
Uniknya lagi, puisi Neno disambut dengan gegap
gempita oleh sebagian kalangan. Bahkan Om Fahri Hamzah sempat mengaku bahwa
puisi itu benar-benar mengetuk pintu langit. Ini adalah pengakuan yang cukup
fantastis. Tentu tidak sembarang orang bisa mendengar suara pintu langit
sejernih pendengaran Om Fahri. Saya cenderung berhusnu zan saja, mungkin ini
bagian dari karamah level wali.
Selain itu, puisi Neno juga diyakini memiliki
kemiripan dengan doa Nabi Muhammad ketika Perang Badar. Saat itu kondisi
pasukan Islam memang cukup memprihatinkan, hanya berkisar tiga ratusan orang,
sementara pasukan Quraisy berjumlah seribu orang. Dalam kondisi tersebut Nabi
menaruh harapan besar kepada Allah agar pasukannya dimenangkan, sebab umat
Islam saat itu cuma segitu, kalau sampai binasa semua ya habislah harapan.
Dengan demikian menjadi wajar saja jika Nabi memohon kemenangan kepada Tuhan.
Pertanyaannya kemudian, apakah kondisi di zaman Nabi
itu sama dengan suasana di zaman kita? Saat ini umat Islam tersebar di
mana-mana, di seluruh benua. Umat Islam juga tersebar dalam partai politik yang
tak terbilang. Dalam konteks Pilpres, umat Islam juga terbelah ke dalam dua
kubu pasangan capres. Lantas logika apa yang digunakan ustazah Neno untuk merasa khawatir bahwa
Tuhan akan kehilangan penyembahNya jika seandainya satu pasangan capres menang
dan pasangan lain kalah? Tidakkah Neno terlalu lebay?
Melihat puisi Neno, tiba-tiba saya jadi teringat
pengalaman masa kecil. Pada saat itu saya memelihara beberapa ekor anak ayam.
Setiap jam sembilan sampai jam sepuluh pagi saya menjemur anak ayam di bawah
terik matahari. Anak ayam itu saya kurung dalam sangkar. Saya punya keyakinan
bahwa sinar matahari bagus untuk anak ayam. Tapi sialnya, ketika pulang sekolah
saya mendapati beberapa ekor anak ayam itu mati. Karena kejadian ini terus
berulang, akhirnya pada suatu hari (hari Jumat) saya memutuskan untuk tidak
shalat Jumat. Ini adalah bentuk protes saya kepada Tuhan karena tidak
menyelamatkan anak ayam saya. Tapi tindakan libur Jumat itu hanya saya lakukan
sekali saja. Setelah itu saya segera sadar bahwa tindakan saya sama sekali
tidak akan merugikan Tuhan. Sejak saat itu, saya tidak berani lagi melanjutkan
protes.
Nah, merujuk pada beberapa bait puisi Neno yang
menghebohkan itu, saya berkesimpulan bahwa Neno memang sosok berani, bahkan
paling berani abad ini. Bukan sekadar protes, tapi Tuhan juga diintimidasi.
Bireuen, 23 Februari 2019
Neno Memang Berani, Tuhan pun Diintimidasi
Reviewed by Khairil Miswar
on
5:19 AM
Rating:

No comments: